Hidup sebagai kehadiran yang “tidak iseng” namun bertujuan dimana manusia mengemban amanah dan tanggung jawab sehingga tidak berakhir hanya didunia saja.
untuk menuju capaian ini perlu perjuangan dan upaya. tidak otomatis, tidak terjadi begitu saja.
gue baru nonton film Buya Hamka,. Sejak awal, Buya Hamka sudah menjanjikan format ensemble cast yang diisi aktor hebat Indonesia.
Vino yang berperan sebagai Buya Hamka sukses menjawab keraguan penonton dengan akting penuh pesona. Logat Minang Buya Hamka yang diucapkan Vino terasa meyakinkan, setidaknya bagi gue yang awam.
Dari film ini gue belajar untuk keberhasilan perjuangan diperlukan pengorbanan dalam bentuk apapun. Korban adalah modus dalam hidup untuk kita sukses. There’s no free lunch! untuk sampai pada yang kita inginkan pasti ada yang kita korbankan. lo bisa liat bagaimana history Buya Hamka untuk menyelesaikan Tafsir Alazharnya.
Malcom Gladwell bilang dalam bukunya Think and The Tipping Point, untuk seseorang menjadi ahli dan sukses di sebuah bidang minimal seseorang harus membayar 10.000 jam terbang. Jika dihitung secara matematika, jika lo kerja bekerja 8 jam sehari dan 5 hari seminggu, maka dibutuhkan 4-5 tahun untuk menjadi ahli dibidang tersebut.
Teori ini tidak berlaku untuk orang yang cerdas seperti Buya Hamka. Pendidikan formal yang ditempuhnya hanya sampai kelas 3 Sekolah Dasar Maninjau. Setelah itu, saat usianya menginjak 10 tahun, Buya Hamka lebih memilih untuk mendalami ilmu agama di Sumatera Thawalib di Padang Panjang, sekolah Islam yang didirikan ayahnya sekembalinya dari Makkah sekitar tahun 1906.
Selain bertanggung jawab kepada ajaran agama, beliau juga sangat terkenal dengan dakwah romance nya. Berbeda dengan manusia modern saat ini tidak punya kapasitas untuk mencintai, takaran hidup kita saat ini adalah rasionalitas insturmental, untung-rugi. Ini adalah Paradok Materi. semua berlomba untuk piala kosong yang bernama kebahagiaan, hingga lupa jika tidak mengikuti perlombaan adalah ketentraman.
Terimakasih karna sudah menjadi pribadi yang selalu ingin memiliki rasa ingin tahu, ingin mengerti, dan tidak mudah menerima begitu saja sebuah tradisi dan semua hal-hal yang kamu temui. Semangatmu untuk terus belajar dari apapun dan siapapun tidak pernah padam karena untukmu, dunia bukan sekedar untuk dihidupi, dijalani, tapi juga dipelajari.
Terimakasih karna sudah berani dalam mengambil keputusan-keputusan penting di usiamu, terimakasih karna sudah bertahan sejauh ini, terimakasih karna sudah berteman dan menghargai orang-orang disekeliling mu. Tanpa melihat warna kulitnya, agamanya, ataupun dari mana dia berasal.
Sistem nilai yang berasal dari agama memberikan pengaruh yang dominan terhadap prinsip-prinsip etika bisnis pemeluknya. hal ini telah dibuktikan oleh tesis Max Weber dengan Protestant Ethics nya yang membawa kemajuan pesat dalam pembangunan di Eropa. Menurut Max Weber, dalam agama Protestan Calvin terdapat etika kerja keras, sungguh-sungguh dan menjauhi kemalasan sehingga dalam banyak hal telah mendorong perkembangan ekonomi secara positif. Sebaliknya, dia mengungkapkan bahwa agama Islam memiliki “etik tradisional”
Gua terlahir dari keluarga pembisnis, nyokap dan bokap gua seorang Wiraswasta. Gua memiliki hasrat untuk melanjutkan bisnis bonyok gua. Oleh karna itu gua mengumpulkan pengalaman gua selama berkerja di PT Totalindo Mining Resources sebagai Administration Manager, PT Indexim Coalindo sebagai Dispatch Adminstrasi dan PT Ganda Alam Makmur sebagai Administrasi, yang ketiga perusahaan ini bergerak di bidang industri Pertambangan. Dari sana gua belajar memahami bagaimana orang membuat keputusan pembelian yang mereka buat. Selain tertarik dengan bisnis, gua juga tertarik dengan hukum. Untuk secara spesifik sebagai seorang yang tinggal di negara yang mayoritas muslim, gua perlu mempertimbangakan aspek spiritualisme karena pengalaman terakhir gua yang gua selesaikan gelar sarjana adalah Hukum Islam.
Secara Pribadi, ketika gua masih di sekolah menengah akhir, bisnis bokap bangkrut karena ditipu oleh partner bisnisnya. Nyokap terpaksa menutup usahanya juga untuk menutupi kerugian perusahaan bokap gua yang bangkrut. Prilaku semacam ini bukanlah prilaku pelaku bisnis yang baik dan utama sebagaimana diajarkan dalam Islam. Kegiatan bisnis dalam Islam, tidak boleh dilaksanakan tanpa aturan. Islam memberikan rambu-rambu pedoman dalam melakukan kegiatan usaha, agar tidak ada pihak-pihak yang dirugikan dan dieksploitasi baik pihak konsumen, karyawan maupun siapa saja yang ikut terlibat dalam kegiatan bisnis tersebut.
Kembali ke masalah bisnis dan korelasinya dengan agama. Menurut Kenneth E pengaruh agama terhadap kehidupan ekonomi sangat kuat. Kenyataan yang Bapak dan Ibu gua hadapi sekarang adalah perilaku yang menyimpang dari ajaran agama, merosotnya nilai etika dalam bisnis. Tanpa etika, dunia bisnis akan menjadi sebuah struktur kehidupan yang tersendiri dan menjadi dunia yang “hitam”. Kemudian untuk menyadari semua ini, Gua ingin melanjutkan studi lanjutan, salah satunya dengan terus belajar. Belajar adalah menjadi sebuah keharusan di era sekarang. Ketika Gua nantinya menjalankan bisnis tentu akan adanya perubahan lingkungan bisnis. Gua perlu tetap menjadi seorang pembelajar, agar tetap mengupdate cara gua terhadap lingkungan bisnis. Yang membuat gua sebagai manusia adalah memiliki keinginan untuk bertumbuh, maka pertumbuhan itu bisa gua lihat dari cara-cara gua menigkatkan kompetisi diri.
Mengenal VUCA, Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity. VUCA bukanlah situasi baru bagi dunia bisnis. Para pemimpin organisasi dihadapkan pada lingkungan yang berubah dan tidak dapat diprediksi. Setelah adanya krisis di COVID 19, membuat VUCA ini semakin intens dan sangat berpengaruh dalam dunia bisnis.
Pemimpin bisnis tidak hanya menghadapi era kehancuran digital yang mengguncang struktur pasar dan melemahkan industri lama, tetapi juga menghadapi wabah yang telah menewaskan lebih dari 3 juta orang dan menjerumuskan negara ke dalam resesi. Saat ini, masa depan bisnis menjadi semakin tidak pasti.
Gua memilih Korea Selatan karena diakui dan dijunjung tinggi secara global untuk Pendidikan kelas dunia. Gua tertarik pada Dual Degree Business Administration di Ajou University karena program yang ditawakan adalah apa yang ingin gua pelajari. Selain itu, Ajou University memiliki ambisi yang kuat banget untuk menjadi Universitas Terbaik Asia untuk Abad ke-21 untuk mendorong perubahan di era baru yang diwakili oleh Revolusi Industri Keempat. Sesuai dengan visi gua yang ingin gua capai menghormati manusia dan menyatukan manusia dalam ikatan bisnis.
Selain itu, perusahaan ogut bekerja saat ini PT Ganda Alam Makmur adalah bagian dari LG Group, yang 60% persentasi sahamnya dipegang oleh LG INTERNATIONAL CORP. Perusahaan LG adalah salah satu dari lima besar perusahaan di Korea Selatan. Gua melihat sendiri bagaimana etos kerja yang dimiliki orang korea. Ritme kerja yang cepat, tuntas, dengan hasil yang terbaik.
Dengan hadirnya PT Ganda Alam Makmur di Indonesia, membawa dampak yang bagus di Indonesia. Perekonomian yang ada di kawasan ikut terangkat dan Menyediakan lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang.
Berdasarkan beberapa kekuatan Korea Selatan dan Universitas Ajou di atas, gua berpikir bahwa gua harus melakukannya, belajar di sana dan mempelajari sistem pendidikan dan budaya yang mereka anut sehingga gua bisa menerapkannya ke dalam kehidupan nyata
Konon katanya, ada seorang anak yang melawan orang tua nya, lalu orang tersebut dikutuk menjadi batu. Namun nyatanya ada kisah dimana sang ibu berlaku tidak adil terhadap anaknya. Ini pernyataan yang sama tapi mungkin terdengar berbeda, tergantung pada emosi pembacanya.
Oke pertama gua nggak akan ngebuat lo buat jadi anak durhaka, karena durhaka itu tidak bagus, tidak baik dan tidak ada pembenaran untuk hal ini. Tapi, kita boleh menjadi anak yang tidak selalu mendengarkan orang tua. Kita boleh menjadi anak yang mengatakan kebenaraan pada orang tuanya.
Dulu gua selalu berpikir gua akan selalu ngikutin perkataan nyokap gua, karena doa nyokap adalah yang terpenting bagi hidup gua. Dulu gua beranggapan nyokap gua orang yang cerdas, berani dan kuat. Gua melihat sisi dimana nyokap bisa menjadi siapapun. Kadang doi membuat keputusan sepihak seperti hakim, kadang bisa jadi juru masak dengan menu makan yang berbeda setiap harinya. Kadang-kadang juga nyokap bisa jadi polisi perbatasan yang membatasi pergaulan seseorang.
Nyokap berpikir berdasarkan pengalaman yang sudah didapatkan pada zaman dulu. Jadi kalo zaman dulu nyokap gua bekerja di kantor adalah hal yang baik, itu adalah pengalaman mereka di zaman dulu. Masalahnya adalah gua ga hidup di zaman dulu. Jadi apa yang nyokap gua pikirkan belom tentu benar di zaman yang sekarang. Dan parahnya, masih banyak orang tua yang belom move on dari zamannya.
Kemudian setelah gua beranjak dewasa baru gua sadar bahwa nyokap gua ternyata ga secerdas itu. Ternyata dia bisa terprovokasi dengan politik dikotomi dan ngirimin pesan berantai atau video-video yang menyeramkan, yang ga jelas benar atau tidaknya. Nyokap gua memang berani dan kuat. Tapi setalah gua dewasa, baru lah gua sadar bahwa dia sebenernya hanya cakap dalam terlihat seperti itu. Dia tidak berani mengakui bahwa dia hanyalah manusia biasa dan butuh pertolongan. Dia tidak seberani itu untuk bilang bahwa dia pernah salah mengambil keputusan.
Almaratu madrasatul ula. ibu adalah sekolah yang pertama. Tapi kita juga diciptakan tuhan untuk berpikir sendiri. Al insanu hayawanun nathiq Makanya kalo nyokap gua bilang “dengarkan kata-kata orang tua” gua masih memiliki otoritas untuk memilah dan memilih mana yang cocok buat gua, kecuali kalo redaksi nyokap gua “ikuti semua kata orang tua” mungkin gua gapunya kuasa atas diri gua sendiri.
Katanya dewasa itu menyenangkan. Nyatanya, menjadi dewasa tidak semulus kulit wajah yang harus dikenai skincare berlapis-lapis. Ketika dewasa lalu dihadapkan dengan sisi lain kedua orang tua gua rasanya tuh campur aduk banget. Rasanya tuh kaya dibohongin, dibodohi bahkan parahnya kita kaya dijadikan pelampiasan atas masa lalu mereka. Orang tua gua latar pendidikan agamanya kurang, makanya anak-anaknya dipaksa masuk pesantren demi menutup kesalahan mereka di masa lalu. Lalu salah satu yang buat gua jengkel ketika gua melakukan kesalahan, nyokap gua bilang “masa anak pesantren gitu”. Hello emangnya ibu ngerasain jadi santri, emangnya ibu tau rasanya di pesantren kaya gmn, ibu jangan asal bicara, ini tuh bukan salah pesantrenya, emang gua nya aja yang bader.
Dan setelah menyadari ini semua, gua makin muak dengan narasi bahwa anak nggak boleh berbicara hal negatif sedikit pun tentang orang tua. Bahkan mengakui kenyataan bahwa orang tuanya banyak kurangnya pun nggak bisa, karena dibayang-bayangin konsep “anak durhaka”. Padahal kita sangat mampu untuk berkomunikasi dengan baik dengan orang tua, tapi gak semua orang tua mampu mendengarkan kemauan anaknya. Ageisme adalah bentuk stereotip diskriminasi terhadap seseorang berdasarkan usia. Seolah-olah anak yang lebih muda tidak boleh memberi masukan kepada yang lebih tua. Seolah-olah pengalaman seseorang diukur hanya berdasarkan usia mereka.
Gua berbicara sebagai anak dari orangtua yang jauh dari kata sempurna, jadi jangan lihat gua sebagai orang jahat, cukup lihat gua sebagai manusia, itu sudah membuat lo menjadi lebih baik. Kalo misalnya gua dilarang narkoba, dilarang berhubungan sexs diluar nikah, dilarang mabok-mabokan diluar rumah. Yes of course pasti gua kerjakan. Tapi kalo gua dilarang kuliah di jurusan yang gua ga mau, pasti gua akan nolak. Tapi bodohnya gua waktu itu gapunya keberanian untuk bilang tidak. Gua menggangap semua keputusan orang tua adalah yang terbaik untuk membuat anaknya menjadi bahagia dan kaya. Padahal untuk menjadi bahagia itu ada di tangan gua, lalu kalo misalnya gua ikutin kata orang tua gua dan gua menjadi kaya. Pertanyaanya adalah apakah kaya dan bahagia itu sama? apa kabar manohara. Lalu kalo misalnya gua ngikutin kata orang tua dan akhirnya gagal pasti yang gua salahkan adalah orangtua. Tapi kalo misalnya gua ngikutin pilihan gua dan akhirnya rusak juga, gua akan menyalahkan diri gua karena ini adalah proses belajar.
Selama gua tinggal satu atap dengan nyokap, (gua ga bicara tentang bokap gua karena doi ga di jakarta) dia gak pernah ngasih ruang buat gua mengatakan apa yang gua mau. Dia ga pernah ngasih space apabila gua lagi butuh sendiri. Dia ga pernah tau disaat gua punya masalah, gua bukan butuh nasihat. Gua cuma butuh di dengar. Dia ga pernah membiarkan gua membuat keputusan. Ketidak mampuan dalam mengambil keputusan membuat gua tidak mampu memecahankan masalah. Di saat gua butuh udara segara, nyokap juga ga ngasih. Nyokap bakal ngizinin gua keluar kalo memang itu urusan penting, bukan untuk hal-hal yang sifatnya euforia. Temen-temen gua juga tau betapa takutnya gua sama nyokap gua. Gua bakalan ngelakuin apa aja supaya nyokap gua ga marah sama gua, gua rela mengorbankan kebahagiaan gua demi nyokap gua.
Gua selalu bertanya-tanya tentang apa yang gua rasain. Tentang hubungan jarak jauh yang gua rasain. Tentang apa yang gua hadapin. Apakah iya orang tua gua selalu benar, apakah benar ini yang terbaik yang diberikan orang tua gua. Gua bicara gini karena gua capek dihadapkan dengan respon bahwa gua ga boleh bicara hal negatif tentang orang tua karena nanti gua masuk neraka. Seakan-akan gua hanya boleh punya SATU rasa terhadap mereka, yaitu rasa sayang, hanya itu.
Mungkin kelahiran gua entah di rencanakan atau sebeuah kecelakaan karna tidak memakai alat kontrasepsi saat proses pembuataanya, setidaknya mereka mau bertanggung jawab, setidaknya mereka tidak meninggalkan gua di keranjang sampah, setidaknya mereka tidak menjual gua untuk prostitusi. Karena masih banyak anak-anak diluar sana yang terputus sekolah nya, masih ada orang tua yang belum bisa memberikan makanan bergizi pada anaknya, ada juga beberapa orang tua melakukan kekerasan fisik terhadap anaknya. Terlalu banyak ibu dan bapak yang menyakiti anaknya.
“tapi kan mereka orang tua lu. mau gimana pun juga, mereka tetap orang tua lu. sejelek apapun mereka, lo tetap harus hormat” Kadang kita butuh berani mengakui realita apa adanya untuk bisa berdamai dan menerima. Gua berharap ada banyak orang yang blak-blakan mengakui bahwa orangtua kita bukan tuhan maupun malaikat. Mereka juga manusia bisa baik, bisa jahat, bisa benar, bisa salah. Tanpa takut dianggap anak yang tidak tahu diri, tanpa takut di cap durhaka
Akhir-akhir ini gua sering banget nulis, bener-bener dah #WorkFromHome yang sangat produktif. Kalo kalian gimana? Mungkin ada beberapa dari kalian yang juga panik takut terinfeksi coronavirus. Yaudahlah skipp aja, kita cuma bisa berharap diberikan kesehatan selalu agar bisa memperbaiki diri lebih baik lagi kedepanya…
Kemarin ada yang bertanya sama gua, kebahagiaan seorang penulis itu untuk siapa? trus lo ngapain nulis, emangnya tulisan lo bagus? Pertanyaan yang simple namun kompleks buat ngejawabnya. Mungkin yang bertanya juga ga ada tujuan tertentu. Hanya kepo. Hanya ingin tau.
Sebagian orang bertanya karena ingin mengukur kapasitas keilmuan gua. Hanya untuk menjustifikasi image yang di tempelkan kepada gua. Makanya gua akan disclaimer kalo gua seorang penulis. Tapi kita coba lihat konteksnya dulu…
Orang belajar disebut “akademisi” orang yang kerja di PT disebut “buruh” orang yang suka main game disebut “gamers” dan orang yang mencuri disebut “pencuri”.
Kesimpulan dalam pengertian umum bahwa orang yang setiap hari menulis disebut “penulis”.
Tentu tidak perlu dibahas, apakah hanya orang yang sudah menerbitkan sebuah buku saja yang boleh disebut penulis ataukah semua yang hobi menulis boleh saja disebut sebagai “penulis”.
Yang akan gua bahas apakah benar menjadi sebuah penulis adalah sesuatu yang dibanggakan?
Jika jawabanya “iya”mengapa para penulis yang berbau PKI, kiri, komunisme, marxisme, dan leninisme membahayakan hidupnya untuk sebuah tulisan. Apakah karena kandunganya mengundang propaganda? Atau mungkin tulisanya dianggap mengancam kekuasaan kolonial pada masa itu?
Tapi kalo seandainya jawabnya “tidak” tentu ada alasan untuk mengatakan hal demikian.
Satu pertanyaan yang terdiri dari empat suku kata, mengundang puluhan jawaban yang bervariasi? Ada yang mengatakan menjadi penulis adalah jalan mencapai popularitas. Ada juga yang bilang bahwa menulis itu untuk menolak lupa. Dan tidak ada salahnya juga bila ada yang menganggap bahwa menjadi penulis untuk mendapatkan uang tambahan. Seperti yang sudah gua bilang diatas, tidak ada jawaban yang salah, setiap orang punya sudut pandangnya masing-masing.
Kalo kita ingin tahu jawabanya, kita harus mulai menulis. Bukankah jika kita ingin mengetahui dalamnya laut kita harus menyelam terlebih dahulu. Bukankah untuk mengetahui madu itu manis kita harus mencicipinya. Bukankah dalam cinta sebelum mengetahui dia suka atau tidak kita harus mengutarakan perasaan? Bagaimana kita tahu jawaban sesuatu jika kita saja tidak berani mencobanya terlebih dahulu? masihkan system doktinisasi itu kita pertahankan?
Tapi bagi gua pribadi menulis adalah suatu kebanggaan. Siapa yang dibanggakan adalah diri kita sendiri. Tohh kita semua tahu bahwa nama itu hanyalah benda mati! yang menghidupkan nama seseorang adalah karya nya. Dan karya seseorang bukan melulu dinilai dari reward. Karya itu bukan melulu soal mendapat pengakuan dari orang lain. Karena karya menurut gua adalah sesuatu yang lu ciptakan semasa hidup lu tanpa merugikan orang lain. Mungkin tulisan gua belom bermanfaat untuk orang lain, tapi setidaknya satu hal yang pasti bahwa tulisan gua bisa gua konsumsi untuk pengingat diri.
Tapikan semua orang bisa menulis bol. Iya memang betul, Semua sepakat dengan narasi tapi tidak dengan realisasi. Semua orang juga tahu kok menulis itu mudah, tapi tidak semua orang bisa mentransformasikan isi kepalanya dalam bentuk tulisan. ntah karena faktor disabilitas atau karena belum terbiasa memformulasikan kata. Intinya, jangan pernah memandang seseorang dari profesinya, Ada sebuah penyakit, tapi gua gatau nama yang cocoknya gimana, tapi kita namakan saja “Sindrom Patah Hati” indikasinya begini :
Satu, lo sedang belajar atau meniti karir, tapi lo tidak tahu prospek kedepannya mau jadi apa. Kedua, lo melihat banyak figur hebat di bidang lu, trus lo jadi semangat, tapi tiba-tiba lo jadi kewalahan karena merasa banyak banget yang harus dikerjakan untuk bisa berada di posisi mereka. Apalagi kalo figur yang lo lihat itu adalah temen seangkatan lo.
Ada yang udah disana, ada yang udah jadi ini, ada yang sudang menghasilkan itu. Rasanya lu pengen minjem pintu doraemon buat kembali ke masa lalu untuk merubah nasib lo.
Kalo udah begini lo harus gimana? Gini bre, inget! Semua orang punya timming nya masing-masing. Orang yang yang berada di puncak pernah mendaki dari bawah. Kalo lo masih dibawah, santai aja. Panik ga akan ngebuat lo tiba-tiba langsung berada di puncak.
Santuyy, terus aja jalan. Jalanin hidup yang tidak berguna ini selangkah demi selangkah. Lakukan perubahan sekecil apapun setiap harinya agar menjadi versi lebih baik dari dari lo sebelumnya.
Hidup itu bukan soal patah hati ketika melihat nasib orang lain lebih baik dari lo. Bisa jadi mereka payah dan berantakan dalam sekian aspek yang mungkin lo baik disana. Jangan melulu ngebandingin hidup lo sama orang lain. Semua orang punya masalahnya masing-masing. Lo tinggal nunggu timming aja.
Mau sampai kapan lo hanya jadi penonton dan komentator. Ingat pepatah tidak berguna ini “hidup lo berharga, jangan mau hidup ditentukan orang lain. Berani bermimpi, kerja keraslah sampai bisa mewujudkan. Kalo mimpi lo belom ditertawakan orang lain, berarti mimpi lo masih kecil”
Sekarang mah gini dulu dah, bahagiakan diri sendiri dulu. Tulis apa yang lo sukai. Berpestalah dengan kata-kata dan plot yang lo inginkan. Menulis itu bukan untuk membahagiakan pembaca saja. Menurut gua, memastikan diri sendiri bahagia saat menulis, itu numero uno. Jika lo ga happy ketika menuntaskan suatu tulisan, itu sangat menyiksa. Hampir pasti, berdasarkan pengalaman menulis skripsi, lo akan kesusahan selama prosesnya. Percayalah, kebahagiaan lo akan tercermin pada karya lo dan nanti nya menulari pembaca.
Gw paling malesssss banget orang yang ga rapih, bersih dan kalo dia abis ngelakuin apa2 ga tanggung jawab. Sekali dua kali sih wajar. Tapi kalo udah keseringan hobi nama nya. Bukan anak kecil lagi yang dikatakan bebas dari hukum yang ga tau mana baik buruk. Dan hal ini bukan masalah berbeda madzhab atau ormas. Tapi kebersihan itu masalah mata. Mata yang melihat itu enak di pandang atau nggak.
Setiap orang punya kaca mata nya masing2 melihat suatu kejadian di dalam hidup nya. Contohnya masalah kebersihan. Bagi orang yang rajin ini sepele kalau dia di lingkungan orang yang rajin juga. Tapi kalo udah di lingkungan jorok dan orang2 nya ga idep. Udah intoleran sih.
Satu lagi gw orang yang ga bisa TP/pencitraan di depan orang. Kalo gw ga suka sama satu orang ini entah mau dari orang lain gw denger. Atau ada temen gw yang di sakitin sama dia. Pastinya gw bakal observasi dulu. Dia seperti apa yang orang lain omong atau nggak. Kalau nyata nya benar, ya gw tipe orang yang ga mau ribet. Dan ga mau tambah masalah. Dan juga ga mau buang2 energi terlalu banyak untuk pake topeng sok baik di depan orang yang gw ga se-frekuensi sama dia. Dan akhirnya, gw pasti jaga jarak sama dia atau ngomong seperlunya aja. Karna menurut gw kalau di paksakan malah membawa aura negatif ke dalam diri dan lingkungan gw. Terserah orang mau anggap gw unsociety atau gak gaul. Yang penting gw nyaman.
Ketika lu baca tulisan ini, posisi gua berada di kamar, ditemani secangkir kopi, kopi yang tak bernama, dan perjuangan yang tak bermakna. Hari-hari gua di awal tahun ini dihabiskan dengan rutinitas yang monoton. Bangun pagi buka laptop, siang buka laptop lagi, bahkan malam juga masih buka laptop. Semua ini gua lakukan demi tuntutan gelar, yang entah gua bisa atau engga untuk mempertanggung jawabkan nya kepada masyarakat. Tapi satu hal yang gua percaya bahwa yang namanya ilmu tidak akan pernah sia-sia. At least untuk diri gua pribadi, keluarga atau kalo bisa bermanfaatlah untuk orang lain. Karena gua percaya, puncak dari ilmu itu bukanlah pengetahuan melainkan tindakan.
Wa’mal maa syi’ta fainnaka majziyunbihi, waahbib maa syi’ta. Gua tipikal orang yang suka belajar, tapi disisi lain gua juga termasuk orang yang belum bisa melawan kemalasan. Emangsih namanya malas mah manusiawi, tapi kalo males-malesan terus apa bisa disebut manusiawi?
Fainnaka mufarikuhu. Kenapa sih setiap pertemuan selalu ada perpisahan? Katanya hidup itu soal perjalanan, ada yang meninggalkan dan ada yang ditinggalkan. Yaa meskipun tujuanya sama, Tapi gua ga siap buat keduanya. Soalnya gua males banget harus bertemu orang baru, harus bersosialisasi dari awal lagi, harus sksd dulu, harus caper dulu, dsb.
Ditambah akhir-akhir ini gua banyak sekali tekanan yang gua terima. Atmosfir yang biasa nya gua rasain kini berubah. Perubahan ini yang membuat kekhawatiran gua meningkat syndrom stadium 4. Entah khawatir karena takut ditinggal lulus sama temen angkatan, entah khawatir gabisa lulus tepat waktu, entah entah entah lainya. Kenapa sih selalu ada kata entah? Apakah gabisa manusia mendapatkan bocoran tentang masa depan nya? yaa walaupun kata orang memang benar, apa yang kita kerjakan hari ini kelak menentukan masa depan, satu hari yang kita lakukan hari ini sama dengan meminjam satu hari di masa depan kita. Iyaa gua tau, tau banget malah, tapi kalo boleh jujur gua lagi ga butuh motivasi itu. Bukanya gua menutup telinga, dan ganerima argumentasi dari orang-orang pintar, tapi emang bener kalo gua lagi ga butuh itu, gua cuman lagi butuh kepercayaan diri aja. Impian yang gua bangun seolah-olah hancur begitu saja karena hilangnya motivasi di diri gua.
Sebenernya ini gua lagi ngomongin apa sih wkwkw, bodo amat lah yang penting kegelisahan gua udah gua sampaikan. Lo mau ngerti atau engga juga bukan urusan gua.
Hi hitam? Are u happy now? Gw lagi merasa tidak percaya diri. Entah 2 hari ini gw merasa di hantui sama kata hati gw sendiri. Gw sendiri ga tau apa yang gw harus lakukan untuk menghilangkan semua kegelisahan ini. Udah berbagai cara tapi ketika bangun tidur hal itu terjadi lagi. Entah sifat gw ini wajar atau tidak hahaha. Ketika gw sudah mantap dengan satu mimpi gw. Gerakan hati gw langsung mencari informasi sedalam-dalamnya kali seminggu kemudian berubah lagi. Dan ketika berubah, timbul mimpi yang lain yang mengharuskan gw untuk mencari info selanjutnya dengan kategori info yang jelas sejelas jelasnya. Lalu seminggu atau di makan zaman sebentar berubah lagi. Dan itu sudah terjadi 5 kali berturut turut. Sampai gw sendiri lelah. Apa maunya diri dan jiwa raga gw ini ga sinkron sama sekali. Mungkin ini bukan kategori labil. Lebih ke titik beratkan bentuk kehati-hatian, yang lebay hehehe. Biar ga salah berbuat dari sekarang. Makanya mau dipersiapkan. Tapi ketika mau di jalanin, resah sendiri kayaknya ada yang lebih baik deh. Atau harus selesaikan yang basic nya dulu yah de el el. Tapi bingung nya, cuman tempatnya aja yang berubah tapi mimpinya tetap sama.
Apa gw salah menuntut diri gw sendiri untuk se-sempurna impian gw. Atau gw ga mengerti arti bersyukur dan tawakal? Atau ada hal yang menutupi semua ini. Gw sendiri sadar, apa yang gw lakukan ini terlalu ekstrim. Tapi menurut gw ini masih di batas wajar. Apa mungkin setiap jiwa bisa menuntun dirinya sendiri untuk memilih jalan hidup nya. Dan tidak bisa di sama ratakan oleh setiap manusia. Entahlah, rasanya aku sedang mendzolimi diriku sendiri. Atau terlalu acuh dengan lingkungan. Yah, aku sedang butuh waktu sendiri. Di ajak keluar traveling aja butuh berfikir 2 kali atau lebih untuk berkata IYA.
[Ziv Zaifman:]
I close my eyes and I can see
The world that’s waiting up for me
That I call my own
Through the dark, through the door
Through where no one’s been before
But it feels like home
They can say, they can say it all sounds crazy
They can say, they can say I’ve lost my mind
I don’t care, I don’t care, so call me crazy
We can live in a world that we design
‘Cause every night I lie in bed
The brightest colors fill my head
A million dreams are keeping me awake
I think of what the world could be
A vision of the one I see
A million dreams is all it’s gonna take
A million dreams for the world we’re gonna make
There’s a house we can build
Every room inside is filled
With things from far away
The special things I compile
Each one there to make you smile
On a rainy day
They can say, they can say it all sounds crazy
They can say, they can say we’ve lost our minds
I don’t care, I don’t care if they call us crazy
Run away to a world that we design
[Hugh Jackman:]
Every night I lie in bed
The brightest colors fill my head
A million dreams are keeping me awake
I think of what the world could be
A vision of the one I see
A million dreams is all it’s gonna take
A million dreams for the world we’re gonna make
[Michelle Williams:]
However big, however small
Let me be part of it all
Share your dreams with me
You may be right, you may be wrong
But say that you’ll bring me along
To the world you see
To the world I close my eyes to see
I close my eyes to see
[Michelle Williams & Hugh Jackman:]
Every night I lie in bed
The brightest colors fill my head
A million dreams are keeping me awake
A million dreams, a million dreams
I think of what the world could be
A vision of the one I see
A million dreams is all it’s gonna take
A million dreams for the world we’re gonna make